.quickedit{display:none;}

Minggu, 16 Maret 2014


Cinta Apa Adanya~









Mencintai dan Menerima Apa Adanya

Seorang pria dan kekasihnya menikah dan acaranya pernikahannya sungguh megah. 
Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang 
berbahagia tersebut.Suatu acara yang luar biasa mengesankan. 
Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo
hitam yang gagah.Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa 
mereka sungguh-sungguh saling mencintai. Beberapa bulan kemudian, 
sang istri berkata kepada suaminya. “Sayang, aku baru membaca sebuah artikel 
di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan,” katanya sambil menyodorkan
majalah tersebut.“Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai
dari pasangan kita.Kemudian,kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut
dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebihbahagia…..”

Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak 
mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal 
yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikkan mereka bersama. Malam itu mereka
 sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak
 mereka masing-masing. Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya.

“Aku akan mulai duluan ya”, kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya.
 Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman… Ketika ia mulai membacakan satu persatu
 hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai 
mengalir….. “Maaf, apakah aku harus berhenti ?” tanyanya.
“Oh tidak, lanjutkan…” jawab suaminya.
Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya
 dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia.

“Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu”. Dengan suara perlahan suaminya 
berkata “Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah 
sempurna dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri.
 Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang…. “.

Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya.
 Bahwa suaminya menerimanya apa adanya… Ia menunduk dan menangis…..

Siapapun kita, pasti kita ingin, orang yang kita cintai mau dan bisa menerima dan mencintai semua 
kekurangan2 kita dan mau dengan ikhlas, menerima kita apa adanya. Karena siapapun kita, kita adalah
manusia biasa yang tidak sempurna dan pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan di sisi lainnya.

Dalam menjalin hubungan, kita tak perlu berpura-pura dan menutupi kekurangan kita hanya karena takut 
tidak sempurna di hadapan orang yang kita cintai. Karena jika orang yang kita cintai mengetahui hal ini, 
tentunya ia akan kecewa. Bukanlah lebih baik kita selalu tampil apa adanya,
 karena itu tidak akan membebani kita ? 
Sungguh, jika seorang pria atau wanita yang kita cintai, benar-benar tulus mencintai kita, maka tentunya dia akan
dapat menerima kita apa adanya, dan mau menerima serta mencintai semua kekurangan2 kita.

Penerimaan dari orang yang dicintai sangat berarti, dan akan membuat seseorang merasa 
dihargai dan diakui keberadaannya. Penerimaan itulah yang akan membuat kita mampu 
menunjukan ketrampilan/bakat/potensi/kekuatan yang ada di dalam hidup kita.

Seseorang bisa bahagia menjadi dirinya sendiri, bila orang yang dicintainya mau dan
 bisa dengan ikhlas mencintai semua kekurangan2nya dan menerima dirinya apa adanya
. Dampak penerimaan memang sangat luar biasa, penerimaan mampu mengubah kehidupan
 seseorang, penerimaan bisa membuat orang bangkit kembali dan melanjutkan hidup dengan 
lebih baik dari sebelumnya.

Penerimaan membuat orang menjadi kuat dalam menjalani hidup yang berat sekalipun.
 Penerimaan keadaan diri kita apa adanya dan mengetahui bahwa orang yang kita cintai
mau dan bisa menerima serta mencintai semua kekuarangan2 kita, adalah kebahagiaan 
terbesar dalam cinta, percayalah…

Ikhlas.Ada orang yang pernah mengatakan,”Aku tidak tahu mengapa aku tetap mencintainya, 
meskipun dia telah membuat hal-hal yang tidak aku sukai.” Bisa jadi, orang itu telah mencintai 
orang yang dicintainya apa adanya, tidak pakai syarat dan alasan. Lalu bagaimana agar kita 
mampu mencintai seseorang apa adanya? Kunci pertama adalah ikhlas dan tulus, artinya kita 
benar-benar mencintai orang yang kita cintai tanpa syarat atau alasan. Percuma mencintai
 jika tidak ikhlas, karena akan membuat hati kita masih merasakan sesak. Ikhlas itu kunci 
untuk menjadikan hati kita seluas samudera, bukan selebar daun kelor.

Sabar. Mungkin, ada kalanya orang yang kita cintai, bersikap yang tidak sesuai dengan 
keinginan dan kemauan kita sehingga membuat kita kesal, maka disini diperlukan kesabaran, 
agar kita bisa memakluminya. Mungkin orang yang kita cintai itu belum mengerti jalan pikiran
 kita atau belum mengetahui apa yang kita mau dan apa yang kita tidak suka. Positive thinking
 dan persepsi yang baik-baik saja, karena tidak ada gunanya kalau pikiran dan hati
kita berprasangka buruk

Bersyukur, Mencintai adalah karunia terbesar dari Allah. Mumpung rasa cinta dan kasih sayang 
belum dicabut oleh Allah dari hati kita, yuk.. kita bersyukur. Bersyukur karena telah mencintai 
orang yang yang kita sayangi, bersyukur atas pemberian rasa cinta dan kasih sayang dari-Nya, 
bersyukur karena hati kita tidak mati untuk mencintai. Sahabat2ku, rasa cinta dan kasih sayang 
yang hadir di dalam hati kita sesungguhnya berasal dari Allah, Yang Maha Kasih, Maha Penyayang,
 maka hal tsb lah yang harus menjadi landasan, atau dasar kita mencintai orang-orang yang kita cintai.
Bukan karena wajahnya, bukan karena materinya, bukan karena sifatnya, tapi karena Allah.

Kenali Kekurangan Yang Ada Pada Diri Sendiri. Bukan hanya orang yang kita cintai yang memiliki
kekurangan tetapi diri sendiri pun memiliki kekurangan. Oleh karena itu sebelum menilai kekurangan 
orang lain, lihatlah kekurangan yang ada pada diri sendiri. Jika sudah mengetahui kekurangan diri
 sendiri, terimalah kekurangan itu. Dan jika sudah dapat menerima kekurangan diri sendiri maka 
dapat menerima kekurangan orang lain termasuk kekurangan pasangan.

Lihatlah Kelebihannya, karena orang yang benar2 mencintai tidak akan melihat dan mempermasalahkan 
kekurangan oarnag yang dicintainya. Jangan melihat kekurangan yang dimiliki orang yang kita cintai,
 tetapi lihat lah kelebihan yang dimilikinya dan jika sudah mulai ingat kekurangannya, coba ingat 
kelebihan yang dimilikinya.

Menerima Apa Adanya. Tumbuhkan rasa cinta setiap hari dan biarkan bersemi. Jika cinta semakin tumbuh,
 maka kekurangan yang dimiliki pasangan pun akan diterima dengan sendirinya. Karena cinta yang tulus adalah
 menerima apa adanya semua kekurangan2 orang yang kita cintai. Cintailah semua kekurangan2 orang yang kita
 cintai secara utuh apa adanya. Sungguh, tiada yang lebih membahagiakan seorang wanita, bila pria yang
 dicintainya, mau dan bisa mencintai semua kekuarangan2nya dan menerimanya secara utuh apa adanya.

Sabtu, 15 Maret 2014

kasih sayang terhadap anak-anak


bismillahhiRRahmaniRRahim
Sesungguhnya ORang-ORang yang beRiman dan beRamal saleh, kelak Allah Yang Maha PemuRah akan menanamkan dalam (hati) meReka Rasa kasih sayang.
[QS. MaRyam (19) : 96]
Salah satu kemuliaan ahlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Rasa kasih sayang teRutama kepada anak-anak. Kisah tentang Rasulullah Saw. beRsama anak adalah kisah tentang kasih-sayang. Ia memendekkan shalatnya ketika mendengaR tangis anak. KaRena anak pula, Rasulullah Saw. peRnah beRsujud sangat lama. Begitu lamanya Rasulullah Saw. beRsujud sampai-sampai paRa sahabat mengiRa Rasulullah Saw. sedang meneRima wahyu daRi Allah ‘Azza wa Jalla. Padahal yang teRjadi sesungguhnya adalah, ada cucu yang menaiki punggungnya.
BeRikut bebeRapa hadist yang menggambaRkan Rasa kasih sayang yang ditunjukkan dan dicOntOhkan Oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam teRhadap anak-anak:
MenggendOng Hadits Riwayat Abdullah bin Ja`faR Ra. ia beRkata: 
Apabila Rasulullah saw. pulang daRi suatu bepeRgian, biasanya beliau disambut Oleh anak-anak anggOta keluaRganya. Satu haRi beliau pulang daRi bepeRgian dan aku lebih dahulu menyambut beliau. Lalu aku digendOng beliau. Kemudian salah seORang anak Fathimah menyambutnya. Diapun digendOngnya di belakang. Kemudian kami beRtiga memasuki kOta Madinah di atas binatang tunggangan.
DiRiwayatkan pula ketika Beliau Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam sedang shalat, beliau menggendOng Umamah binti Zainab binti Rasulullah SAW, anak daRi Abi Al Ash bin aR Rabi’. Jika beliau SAW beRdiRi beliau menggendOngnya dan jika beliau sujud beliau meletakkannya. [HR BukhaRi Muslim]
Mencium
Hadits Riwayat ‘Aisyah bintu Abu BakR Radhiallahu ‘anhuma ia beRkata: 
"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam peRnah mencium Al-Hasan bin ‘Ali, sementaRa Al-AqRa’ bin Habis At-Tamimi sedang duduk di sisi beliau. Maka Al-AqRa’ beRkata, "Aku memiliki 10 anak, namun tidak ada satu pun daRi meReka yang kucium." Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memandangnya, lalu beRsabda, "Siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi." (Shahih, HR. Al-BukhaRi nO. 5997 dan Muslim nO. 2318)
Hadits Riwayat ‘Aisyah bintu Abu BakR Radhiallahu ‘anhuma ia beRkata:
"SeORang ARab gunung datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian mengatakan, "Kalian biasa mencium anak-anak, sedangkan kami tidak biasa mencium meReka." Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, "Sungguh aku tidak memiliki kuasa apa pun atasmu jika Allah mencabut Rasa kasih sayang daRi qalbumu." (Shahih, HR. Al-BukhaRi nO. 5998 dan Muslim nO. 2317)
Tidak MaRah
Ummul Mu’minin Sayyidatuna Aisyah R.a beRkata:
” Anak-anak kecil di datangkan kepada Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka Beliau beRdOa untuk meReka. PeRnah juga seORang anak kecil yang di bawa kepada beliau kencing di baju beliau. Kemudian beliau meminta aiR dan menuangkan aiR pada kain yang teRkena kencing dan tidak mencucinya.” [H.R BukhaRi]
Mencintai
Rasulullah Saw. peRnah beRsabda, “Cintailah anak-anak dan sayangilah meReka. Bila menjanjikan sesuatu kepada meReka, tepatilah. sesungguhnya yang meReka ketahui hanya kamulah yang membeRi meReka Rezeki.” (HR. Ath-Thahawi).

Selasa, 26 November 2013


CINTA DIATAS BATU


Lina tersenyun manis saat Agus menyapanya, Sembari membetulkan rambutnya yang panjang terurai gadis remaja itu melenggang tanpa mempedulikan Agus yang terus saja menatapnya. Pemuda yang bekerja sebagai buruh bangunan itu memang telah lama tergila gila dengannya. Rupanya siang itu Lina baru saja pulang sekolah, masih mengenakan baju seragam SMU dan jaket jeans birunya gadis remaja itu terlihat sangat cantik sekali, Body tubuhnya yang sexy serta berkulit putih mulus membuat mata Agus tak berkedip menatapnya. Sambil berjalan berlenggang Lina menyusuri jalanan kecil dikampung itu menuju rumahnya, Namun  tanpa sepengetahuan gadis itu diam diam Agus mengikuti langkah kakinya dari belakang. Bagai sipungguk merindukan bulan Agus mengikuti langkah lina hingga sampai didepan pintu pagar disebuah halaman rumah mewah.
Lho…Aguss?? Ada Apa?? Kok ngikutin aku..?! Ucap Lina kaget saat mengetahui Agus tengah berada disitu.
Eh..Ehm..Tidak apa apa Non, Saya cuma pengen maen saja kok…Sahut Agus  gugup dengan wajah memerah.  Gadis itu sedikit kaget mendengar maksud Agus yang polos itu.
Maaf  aku capek mau istirahat…!?? Ucap Lina membetulkan letak tas sekolahnya.
Sebentar saja Non..Kata Agus dengan wajah memelas.
Ah!! Aku males! Sahut Lina dengan nada sedikit kesal dan buru buru masuk kebalik pagar dan menutupnya.
Gimana Non..???
Buat apa maen kerumah segala!!? Sahut gadis itu dari balik pagar besi.
Maksud Non Gimana? Ucap Agus tak mengerti.
Gadis itu terdiam sejenak sambil menatat Agus dengan wajah kesal
Mbok kamu itu ngaca dulu sebelum sampai kesini… sahut Lina jengkel.
Saya ingin berteman sama Non..Ucap Agus  lirih..
Duh..Kamu tu kok nggak ngerti juga ya..Ucap Lina menghela nafas panjang.
Gini aja deh..Kalau kamu mo temenan cari aja yang laen, Maaf aku nggak mau..Paham kan?? Ucap gadis itu kesal sembari melangkah masuk kedalam rumah itu.
Non..Tunggu sebentar..!! Panggil Agus namun gadis itu tak menghiraukannya hingga menghilang masuk kedalam rumah itu.
Agus tertegun dan hatinya sangat kecewa sekali mendapat jawaban yang sangat tidak mengenakan itu. Tatapan matanya terlihat berkaca kaca memandangi bangunan rumah mewah itu.
Sudah hampir satu jam Agus duduk dipinggir jalan didepan rumah mewah itu, Wajahnya terlihat seperti orang stress, Namun seketika itu lamunannya buyar ketika tiba tiba pintu pagar besi itu terbuka dan sebuah mobil sedan mewah keluar dari halaman rumah itu, Agus mengamati dengan seksama mobil sedan itu sesaat pandangannya melihat kedua orang tua Lina dan dua orang lagi sedang berada didalam mobil yang melaju kencang meninggalkan halaman rumah itu. Agus tak mau melewatkan kesempatan itu, Buru buru melangkah mendekati pintu pagar sembari celingukan memasuki halaman rumah itu. Jantungnya berdebar debar sesampainya didalam halaman rumah itu bak seperti maling Agus berjalan mengendap endap menyusuri halaman samping rumah itu., Tak ada yang menyangka jika Agus pemida pendiam dikampung itu begitu sangat tergila gila gadis cantik anak pengusaha kaya dikampung itu.
Langkah kaki Agus mendadak terhenti saat melihat jendela kaca yang terbuka disamping halaman rumah itu. Tanpa pikir panjang lagi Agus mengintip dari dari balik jendela kaca itu. Sayup sayup terdengaralunan music cd dari dalam ruangan itu. Seketika itu mendadak jantungnya berdebar debar saat melihat Lina tengah berada didalam ruangan itu. Gadis itu terlihat sangat cantik sekali, Ra,butnya yang hitam panjang itu diikat kebelakang, Sambil duduk dikursi Lina terlihat sibuk mengetik sebuah laptop komputer, Mengenakan kaos singlet merah dan rok pendek, Membuat kedua paha Lina terlihat putih mulus sekali.
Ehmm..Mulus sekali..Gumam Agus dalam hati menatap kedua paha gadis cantik itu dengan mata melotot. Diam diam Agus menyelinap masuk kedalam ruangan melalui jendela kaca itu. Tanpa menimbulkan suara Agus bersembunyi dibalik ranjang besi. Jantungnya berdetak kencang sambil celingukan memperhatikan seisi ruangan kamar itu. Tubuhnya terasa sejuk oleh hembusan ac ruangan, Sambil bersembunyi Agus berpikir keras apa yang harus dilakukannya, Seutas tali pramika buru buru diraihnya

AKHIR CERITA CINTA
 Karya Danu kusumo

Berawal dari sebuah kekagumanku padamu, Raka. Aku mencintaimu dalam ketidakberdayaanku sebagai seorang wanita yang hanya kau anggap sebagai sahabat, tak lebih. Pagi itu, aku bertemu denganmu yang tengah asyik membersihkan papan yang tak lain merupakan salah satu penyalur ilmu.
“Rajin sekali..” lirihku

Aku tak pernah berani menyapamu walau sebenarnya aku sangat ingin untuk itu. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku benar-benar mengagumimu. Cowok jenius VIII-D, itulah sebutan anak-anak kelas untukmu. Raka, kamu ahli Matematika dan IPA, sedangkan aku? Aku hanya seorang makhluk pecinta sastra dan pembenci akan materi penuh angka.
“Siapa yang ingin menyelesaikannya?” tanya Bu Frida pagi itu.
“Saya, Bu!” ujarmu.


Lihatlah, berpasang-pasang mata menatapmu yang dengan santainya berjalan menuju papan tulis. Kau menuliskannya dengan beberapa kali menatap sebuah buku ditangan kirimu. Dan hebat, kau mendapat nilai sempurna dalam mengerjakan soal serumit itu.
Hari-hari terus berlanjut dan akupun tetap kokoh dengan perasaanku padamu. Setiap kali aku melihatmu, aku tak sanggup menahan desiran-desiran itu dihatiku. Kini, ulangan semester pertama telah usai dan saatnya untuk menantikan detik-detik pembagian hasil prestasi siswa.
“Kelas VIII-D, kita mulai dari juara pertama.... Raka Dwitama!”
Aku sudah menyangka bahwa yang akan meraih kemenangan itu adalah dirimu. Dan aku? Tentu saja tidak bisa.
“Juara kedua.... Ranasya Anggraini!”
Kali ini, aku sama sekali tak menyangka. Aku yang ‘pas-pasan’ ini mendapat peringkat kedua dan akan berdiri disampingmu Raka? Aku malu, sangat malu hingga aku tak lagi fokus mendengarkan siapa seseorang yang akan berdiri disampingku nanti.

Degg..degg...
Aku merasakan jantungku bekerja keras hingga menimbulkan ledakan-ledakan aneh untukku. Aku terus merasakannya walau prosesi pemberian hadiah itu telah usai.
“Wah Rana hebat deh, aku juga pengen masuk tiga besar!” ucap Dara, sahabat ku.
“Ah kamu Da, aku juga nggak nyangka kok. Belum lagi bisa berdiri disamping Raka, aku deg-degan banget tahu nggak.” Balasku dengan diselingi curhat.

Dia sahabatku, tentu saja ia mengetahui bagaimana perasaanku terhadap Raka. Aku pun mengetahui hal yang sama, ia menyukai cowok tinggi yang duduk berseberangan dengan ku. Cowok itu Dafi, cowok berkuit hitam manis, berambut lurus dan bertubuh tinggi itulah yang menarik perhatiannya.
“Ra, Dafi peringkat berapa ya?” tanya Dara padaku.
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, sebuah suara yang tak asing bagiku menyapa.
“Rana, selamat ya.” Ujarmu.
Ah Raka, kamu membuatku sangat malu.
“Eh Raka, ee..makasih. Kamu juga, selamat ya!” balasku gugup.

Waktu terus berputar seiring dengan perkembangan hari, berkembang pulalah kedekatan kita. Sejak kuberanikan diri untuk menyapamu lewat ‘pesan singkat’ dengan alas an menanyakan tugas kelompokku bersamamu, hubungan kita semakin dekat. Awalnya, kukira kau menyukai ku, bahkan aku berpikir kamu akan meminta hubungan lebih dari sebatas teman. Memang iya, tapi hanya sebatas sahabat. Tidak seperti kebanyakan teman-temanku yang lain, jika mereka dekat dengan seorang lelaki maka kelanjutannya adalah ‘pacaran’, hal yang belum pernah ku lakukan.
“Rana, tugas matematikamu sudah selesai belum?” tanyamu pagi itu.
“Seperti biasa Ka, bolong-bolong!” jawabku dengan wajah cemberut.
Dengan kebaikan hatimu, kamu mengambil sebuah buku bersampul biru dan memberikannya padaku.
“Thanks Ka, kamu baik banget.” Ucapku dengan tersenyum gembira.

Kitapun terus sejalan hingga akhirnya menempuh jenjang yang lebih tinggi, kelas IX. Tapi sayang, aku terpisah dengan banyak teman kesayanganku. Termasuk kamu dan Dara, begitu pula dengan Bu Faizah, guru favorit kita. Ramainya suasana kelas tetaplah membuatku merasa sepi disini, belum lagi aku tengah duduk bersama dengan seorang perempuan yang juga menyukaimu. Maria, dia juga menyukaimu Raka. Yang membedakanku dengannya sangat banyak, ia memiliki banyak kelebihan dariku. Postur tubuhnya lebih tinggi, kulitnya putih bersih, penampilannya diluar batas anggun, belum lagi ia merupakan salah satu vokalis ‘grup’ music sekolah. Sedangkan aku? Sangat jauh dibawah darinya.
“Rana, keperpustakaan bareng yuk!” ujarmu memanggilku.
“Ria, aku keperpus dulu ya. Mau ikut?” tanyaku sok akrab.
“Nggak Ra, nanti aku ganggu kalian belajar lagi.” Balasnya dengan wajah yang kurasa adalah milik seorang pencemburu.
Maafkan aku ya, Maria.
Selama diperjalanan menuju perpustakaan, kamu terus menceritakan banyak hal-hal lucu tentang kelasmu.
“Maklum, IX-C Ra, jadi anaknya gitu-gitu. Lucu!” ujarmu disela-sela tawa kecilku.

Saat kita melewati ruang guru, Bu Faizah memanggilmu.
“Raka, nanti siang temui Ibu diruang guru ya.” Pintanya.
“Baik Bu.” Balasmu semangat.
Setibanya diperpustakaan, seorang Ibu penjaga ruang membaca itu menyapaku.
“Rana, tumben jarang kesini.”
“Iya Bu, banyak tugas dikelas. Belum lagi, minggu depan sudah les.”

Setelah melakukan obrolan ringan, akupun segera menghampirimu yang telah duduk mematung dikursi favorit kita.
“Hei Ka, lagi ngarang puisi ya?” tebakku.
Sejak aku menjadi sahabatmu, kamu menjadi seseorang yang cukup terbuka. Aku pun mengetahui hobimu yang sama denganku kala itu, mengarang puisi.
“Iya, nih buat kamu. Bacanya dirumah aja ya Ra!” sahutmu dengan memberikan beberapa lembar kertas padaku.
“Oke bos!” ujarku dengan menempatkan diri disampingmu.
Sepulang dari sekolah, dengan cekatan kuraih beberapa lembar kertas yang semula berada di Lks Matematika itu.

For : Ranasya Anggraini
Mentari
Kau annggun dalam setiap lukisan cahaya
Kau surga bumi nan menyejukkan kalbuku
Kau penerang dalam gelap malamku
Mentari
Telah kutemukan dirimu dibumiku
Dan engkaulah itu.....
Tertanda
Raka Dwitama

Jika ini mimpi, kuharap takkan ada yang membangunkanku untuk meninggalkan kata-kata indah ini. Surat cintakah ini? Raka membuat surat cinta untukku?
Hari hari terus berlanjut, diperjalanan itulah Raka terus mengirimiku bait-bait indah itu. Oh Tuhan, aku tak ingin mematikan hari-hari itu. Namun tanpa sepengetahuanku, Raka menjalani hubungan ‘tersembunyi’ dengan Syela. Lihat saja, ia bahkan tak membiarkan Syela ditembus sang surya saat matahari yang terik memasuki area bimbel hari itu. Dan akhirnya, aku mengetahuinya melalui pembawa gossip terhangat sekolah yang bernamakan Elisa.
“Wah selamat ya Ka, kalian serasi ko.” Tulisku pada Blackberry messagger.
“Aku hanya ingin membantunya Ra. Syela selalu dikejar-kejar temanku yang notabennya adalah mantan kekasihnya. Kebetulan, rumah kami berdekatan dan tentu saja, ia segan mendekati Syela kembali setelah tahu bahwa kami berpacaran.” Balasnya.
~Oh, jadi itu alasannya. Tapi, benarkah demikian Ka? Entah mengapa, aku sedikit meragukanmu.~
Rasanya, aku hancur dan sangat menyedihkan. Aku baru mengalami derita cinta kepada sahabat yang mesti selalu terpendam dihatiku.

Sudah seminggu aku tidak bertemu dengan Raka, dia sibuk dengan kegiatan bersama Syela. Kamu jahat Ka! Lantas, untuk apa surat-surat itu? Aku sakit karenamu!
“Rana..” panggilmu.
“Ada apa?” jawabku datar.
“Kamu marah?”
“Tidak, aku hanya tidak ingin mengganggumu dengan Syela. Nanti dia cemburu lagi sama sahabatmu ini!”
“Ish kamu Ra, itu hanya hubungan palsu.”
“Be,,benarkah”
“Iya, aku mencintaimu.”
“Ra..ka,, kamu ini, becandanya keterlaluan deh!”
“Beneran, itu Cuma hubungan palsu ko. Lagian, Syela sudah mendapat paca baru. Jadi, peranku sebagai pacar palsunya udah clear. So, kamu mau nggak jadi pacar aku?”
“Ha? Kamu nggak lagi bercanda kan Ka?”
“Nggak. Jawab dong Ra, mau nggak!”
“Emm, aku minta waktu deh.”
“Berapa lama? 1 second, 2 minutes, 3 hours, or 1 day?”
“Hehe, 1 day1”
“Ok.”

Jika memang ini benar-benar bukan mimpi, ku mohon panjangkan umurku untuk besok dan hari-hari selannjutnya. Aku merasa menyesal karena telah meminta waktu untuk menjawabnya, dan berandai-andaipun telah menjadi pilihan.
“Raka, aku mau ko jadi pacar kamu.” Ujarku disela makan siang kita.
“Sahabat jadi cinta nih?” balasmu dengan tersenyum manis padaku.

Akupun mengangguk.
Kita telah sepakat untuk hanya melakukan hubungan secara sembunyi-sembunyi. Itulah keinginanku dan keinginanmu. Kita adalah pribadi yang tak menyukai keramaian, kita merupakan pribadi yang menyukai ketenangan. Itulah yang kau ungkapkan diwaktu itu.
Hari berlalu menjadi minggu dan bulan, dua bulan sudah kita menjalani hubungan tersembunyi dibalik persahabatan ini. Tapi, teman-temanku mulai mempertanyakan kejelasan statusku dengan dirimu. Kuakui, aku bukanlah penyimpan rahasia yang setia. Beberapa sahabat karibku mengetahuinya, seperti Dara, Vivi, Nifa, dan Nina. Mereka menanyakan kejelasan hubunganku denganmu, Raka. Sebab, kedekatanmu dengan beberapa orang perempuan membuat mereka curiga. Mungkin, itulah hati seorang sahabat yang teramat bersimpati pada saudara sehatinya. Hal itulah yang membuatku meragukanmu, hingga akhirnya peistiwa itu terjadi. Peristiwa yang kurasa lucu, aku tak menegurmu namun kamu tak marah padaku. Ingatkah dengan apa yang kau katakan?
“Ra (sayang), kalo ngambek tambah imut loh..”
“Ih Raka...”

Kita baikkan dan harmonis kembali, walau terkadang keraguan itu kembali hadir dihatiku. Mengapa selalu aku yang sering memulai, bukan dirimu. Kamu jarang mengirim pesan walau hanya untuk menanyakan sudahkan aku makan? Raka, aku meragukanmu lagi.
Perlahan-lahan, ujian itu telah tiba didepan mata, ujian yang menakutkan dan mengintai kelulusan.
“Ra, semangat ya!” ujarmu yang kala itu duduk bersebelahan denganku.
“Ok, semangat juga ya Ka!” balasku dengan tersenyum simpul padamu.
Waktupun berlalu, ujian telah selesai dan mengharuskan kita untuk menunggu. Dan saat ini, aku berdiri disampingmu dengn harap-harap cemas. Aku yakin, kamu memang bisa mempertahankan juara kelasmu, sayang. Sedangkan aku? Entahlah, aku ragu.
“LULUS”

Lima kata itulah yang membuatku hampir berjingkrak jika aku tidak mengingatmu yang berada disampingku. Akan sangat memalukan bukan jika aku berjingkrak-jingkrak didepanmu? Tapi, intaian perpisahan tengah menghantuiku. Aku diharuskan untuk mengikuti perpindahan kerja orang tuaku ke Banjarmasin, sedangkan dirimu akan tetap meneruskan SMK pilihanmu di Surabaya. Tapi lihatlah, hari ini adalah hari perpisahan kita. Dihari itu, aku memakai kebaya berwarna coklat. Sedangkan kamu terlihat keren dengan kemeja putih dan celana hitammu. Karena tempat duduk itu diatur berdasarkan nomor urut peserta ujian, aku dan kamu berdampingan. Ingatlah, disaat teman-teman sekolah mengatai kita. Mereka tersenyum-senyum melihat kejadian ini. Dimana sepasang ‘kekasih’ mendapat keberuntungan oleh sebuah kebetulan. Namun, hal berat telah menantiku untuk mengatakannya padamu.
“Raka, besok lusa aku akan pergi ke Banjarmasin. Aku akan melanjutkan sekolahku disana, e... bagaimana dengan hubungan kita?”
“Kita long distance!”
“Yakin?”
“Kamu meragukanku atau kamu yang tidak mau?”
“Bukan begitu,, aku mau ko.”
Itulah pertemuan terakhirku denganmu, karena kesibuknmu dalam mengurus pendaftaranlah yang menyebabkan hari terakhir ku di Surabaya tak berjalan dengan baik. Bahkan, sangat tidak baik bagiku. Raka, untukmu aku menangis meninggalkan kota kelahiranku ini. Untukmu dan beberapa sanak saudaraku disini, serta untuk beberapa sahabat yang telah kuanggap saudara sehatiku. Aku menangis, Raka. Tidakkah kamu ingin hadir disini?, seperti beberapa bulan yang lalu kau hapuskan air mataku.

Satu bulan, dua bulan, hubungan kita tetap harmonis seperti dulu. Namun, dibulan ketiga kamu mulai berubah. Perhatianmu berkurang, sms mu pun jarang dating, apalagi telepon, kamu bahkan tidak melakukannya. Raka, tidak pentingkah aku dihatimu? Untungnya, kesibukanku dijejaring social cukup mampu membuatku ‘tak’ resah dengan keadaan kita. Aku mulai rajin membaca beberapa kata mutiara dan artikel berlafadzkan islam, agama terindah yang pernah ku kenal. Hingga disuatu hari, aku membacanya.
“PACARAN ITU BOLEH, TAPI......”
1) Tidak ada pegangan tangan.
2) Tidak ada waktu berduaan.
3) Tidak ada status hubungan.
4) Tidak ada kata mesra bergelantungan.
5) Dan yang utama, harus setelah NIKAH.
“ It’s not shame to be a Jomblo,
Be proud.... be a Josh
~~ Jomblo Sampai Halal ~~

Aku tertohok, sangat tertohok dengan apa yang baru saja kuperoleh melalui android phone-ku. Jujur saja, aku merasa hina akan diriku, aku munafik dihadapan Tuhanku. Entah sudah berapa banyak butiran dosa yang telah ku buat. Haruskah aku memutuskan hubungan ini? Hubungan yang telah kujalin hampir 365 hari bersama Raka, sahabat sekaligus kekasihku. Baiklah, aku akan menunggu hari ke-365 yang akan berlangsung tiga hari kedepan. Lebih dari itu, aku tidak ingin terus mengganggu Raka. Ia telah menjadi ketua dibergai organisasi, iapun menjadi salah satu anggota Osis.
“Ra, kita putus!” tulismu melalui pesan singkat.

Aku menangis, padahal inilah yang aku inginkan. Raka, aku belum memiliki kekuatan untuk ini. Ku mohon, beri aku sedikit ketabahan untuk menjawabmu.
“Iya.” Tulisku.
“Tapi, kita tetap sahabat ya Ra. Aku nggak mau kehilangan sahabat baik sepertimu.” Balasmu lagi.
“^_^” hanya itu yang dapat kutuliskan padamu.

Beberapa bulan telah berlalu, aku hanya mendapat beberapa pesan dan kabar darimu. Lambat laun, kita tak pernah saling mengabari. Dan hari ini, aku mendapat status hubungan barumu dijejaring social facebook.
“Berpacaran dengan Dewi Ramadhani”
Itulah yang kudapatkan distatus hubungan facebook mu. Untungnya, aku telah bergabung dengan beberapa komunitas yang membuatku sedikit melupakanmu. Disanalah kutemukan berbagai hal baru yang tak pernah kupelajari.

Akhir-akhir ini, kamu mulai menghubungiku kembali dengan beberapa kalimat motivasimu. Kuakui, kamu telah mampu mewujudkan cita-cita mudamu. Gelar ketua Osis telah kau dapatkan dengan mudah. Dan lengkaplah sudah ketenaranmu, hingga kembali muncullah desiran-desiran itu. Rasanya aku ingin menenggelamkan diri dibumi, agar aku tak lagi berjumpa denganmu walaupun hanya sebuah ketidaksengajaan. Ya, kita bertemu disebuah jalan raya. Tatapan mata kita bertemu, hingga akhirnya senyumku terulur untukmu.
“Senyum yang kurindukan!”
“Ah tidak, ini tidak boleh. Astagfirullahh...”

Hari demi hari terus berlalu, aku dan kamu semakin dewasa menapaki samudera lautan yang penuh dengan ombak ini. Kita telah bermetamorfosis menjadi mahasiswa. Aku kembali melanjutkan kuliahku di Surabaya, pelajaran bahasa arablah pilihanku. Dua tahun tak bertemu membuatku merasa malu saat bertemu denganmu. Kamu terlihat dewasa dengan kemeja batik berlengan pendek dan celana jeansmu, sedangkan aku tampak berbeda dengan rok panjang, baju longgar dan jilbab besarku.
“Wah, kamu jauh berbeda ya Ra. Semakin dewasa!” pujimu.
“Kamu juga berubah kali, tambah dewasa!” balasku disela-sela menuruni tangga bersamamu.

Lambat laun, kita mulai akrab kembali. berbagai macam pesan kau kirimkan kembali padaku. Namun maaf, permintaanmu tak dapat kuterima dengan persetujuan. Karena kini, aku harus menjaga iffah dan harga diriku sebagai seorang muslimah.
“Maaf Ka, aku tidak bisa untuk mengulangnya kembali. Aku, aku, aku sudah dikhitbah.” Jawabku yang kali itu mengejutkan wajahmu.
“Dikhitbah? Siapa?” tanyamu.
“Tunggu saja undanganku!” sahutku dengan segera berpamitan padamu.
Lihatlah, aku ingin menangis karenamu.

Senin, 12 Juli 2020
Raka, inilah akhir perjalanan cintaku yang tak berujung bersamamu. Melainkan dengan orang lain yang hadirnya lebih jauh terlambat dari kedatanganmu dihatiku. Seorang ikhwan yang merupakan anggota aktif di Lembaga dakwah kampusku, yang akupun turut aktif didalamnya. Hidup ini adalah piihan, dan itulah pilihanku. Farid Arrasyidi Muhammad, kaulah jawaban atas semua munajat dan sujud panjangku.



Menikah tanpa cinta TAPI bukan juga dipaksa...

Sepenggal cerita hidup yang mau saya share berikut adalah tentang kisah nyata seorang teman. Sebut saja Ani, seorang wanita muda berusia sekitar 23 tahun-an. Berprofesi sebagai SPG disalah satu toko. Ani berasal dari kampung di Lampung. Sudah lumayan berkeliling dari satu kota ke kota lain di pulau Jawa ini untuk mencari rejeki dan mencari pengalaman hidup. Kehidupannya tergolong biasa- biasa saja, dengan berbekal agama yang kental, Ani menjalani kehidupannya yang hampir sesuai dengan norma- norma yang berlaku tanpa mengikuti kehidupan abal- abal lainnya.

Dalam pekerjaannya, Ani termasuk berprestasi baik. Dia bahkan dipercaya oleh bos dan diminta untuk mengajari ke pegawai baru atau dipindahkan ke tempat baru hanya untuk memberi pelatihan. Sedangkan untuk kehidupan cintanya, ada sesuatu yang berbeda dari kisahnya. Jatuh cinta kepada atasan adalah cerita umum yang sering kita dengar. Mereka kemudian saling mencintai dan tidak ada halangan yang berarti. Tapi akhir cerita cinta itu adalah mereka harus pisah, karena si cowok , notabene adalah atasannya, selingkuh dan  terpaksa harus menikah dengan orang lain. Ya.. Married by Accident. Kisahnya ditutup sampai disini.

Apapun yang sudah terjadi, toh .. hidup tetap harus berjalan. Dengan kisah hidup seperti apapun, kehidupan tetap berjalan tanpa kamu bisa memberi satu alasanpun. Begitu juga dengan Ani, yang akhirnya berhasil melewati hari- hari yang kurang menyenangkan pasca kisah cintanya yang tidak berhasil.

Banyak pepatah yang bilang, kalau jodoh tidak akan lari kemana. Jika sudah ditakdirkan, tidak akan bisa dielakkan lagi. Mungkin begitulah kehidupan cinta selanjutnya bagi Ani. Tidak tahu bagaimana awal ceritanya, bisa kenalan dengan cowok ini, sebut Anto. Menurut Ani, Anto itu cowok biasa saja, tidak tampan, pendek, tidak ada yang spesial, bahkan tidak ada kriteria cowok yang Ani sukai dari seorang Anto.


Kenyataan saat ini, Ani dan Anto adalah sepasang suami istri sah secara hukum dan agama. Tapi hanya berdasarkan cinta bertepuk sebelah tangan. Ani sama sekali tidak ada cinta, tidak ada rasa sayang , bahkan rasa suka terhadap suaminya ini saja tidak ada. Aneh.. tapi nyata... Parahnya, orangtua Ani belum pernah kenal Anto dan keluarganya ( bukan kerabat keluarga ), dan mereka merestui pernikahan itu. Dan waktu ijab kabul , Ani tidak ada senyumnya layaknya calon pengantin pada umumnya, Ani dengan mata bengkak akibat menangis semalaman , TERPAKSA melewati prosesi pernikahannya.

Sudah beribu kali menjelaskan pada suaminya, semasa mereka masih berteman ( bukan pacaran ) , sudah beribu alasan dikatakan kepada suaminya dan sudah berjuta kalimat pedas yang tidak mengenakkan hati sengaja diberikan kepada Anto. Tapi tetap saja, itu tidak mengurungkan niat Anto. Dengan berbagai cara, dengan segala upaya sudah dilakukan hanya untuk menghindari Anto. Tidak juga berhasil dan tidak mematahkan semangat dan rasa cinta sepihak yang luar biasa besarnya dari Anto ke Ani. Bahkan Ani rela berhenti bekerja dan pulang ke kampung. 

Sekarang, sudah 6 bulan lebih, mereka melewati kehidupan berumah tangga. Selama itu jugalah, menurut Ani, kehidupannya kosong dan tidak ada arti. Terjebak dalam kehidupan yang tidak diinginkannya. Tidak pernah ada percakapan yang berarti antara suami istri baru itu, tidak pernah ngobrol, tidak pernah makan bareng, yang ada hanya dingin, datar dan tidak ada keindahan seperti keluarga baru lainnya. Dan , untuk urusan malam pertama atau malam - malam lainnya, TIDAK ADA. Iya.. tidak ada hubungan intim suami istri yang terjadi. Sampai sekarang ini. 

Anto, sang suami, rela berkorban segalanya, sanggup menghadapi dan hidup bersama dengan wanita yang tidak mencintainya. Dia rela menunggu segalanya, menunggu kesiapan dari sang istri, menunggu cintanya, menunggu, dan sabar menunggu. Dia bahkan pernah berujar, akan membuat sang istri jatuh cinta kepadanya, dan yakin hari itu akan tiba.

Dengan tekadnya yang bulat, dengan rasa cintanya yang tinggi dan nekat, Anto membawa orangtuanya datang secara tiba-tiba kerumah Ani untuk melamar. Dan keluarga Ani yang tidak tahu secara pasti kehidupan cinta sang anak, merestui itu semua. Baru belakangan ini, mereka tau kenyataan hidup yang dilewati Ani. Tidak ada cinta, tidak ada rasa. Itu karena hanya karena keluarga Ani mementingkan budaya kuno, mementingkan nama baik dan aib keluarga. 

Inilah hidup. Banyak sekali cerita kehidupan yang terjadi. Tidak tahu , harus bagaimana menjalani hidup seperti yang dialami Ani. Yang membuat aku heran, keluarganya Ani, padahal mereka bukan keluarga kerabat kok, bukan keluarga yang sudah saling kenal. Tidak ada hutang piutang, tidak ada hutang budi dan sebagainya. Tapi inilah kehidupan yang harus dijalani Ani , untuk saat ini dan entah akan sampai kapan? Baginya, sudah tidak tahan lagi. Saya mendoakan , semoga suatu hari, jika memang kehendak Tuhan, pintu hati Ani dibuka dan bisa menerima cinta dan kasih sayang dari Anto.

CINTA SELALU ADA
Di Terbitkan Oleh Danu Kusumo

Cinta bukanlah sesuatu hal yang tabu lagi untuk dikenal
    Banyak orang merasa bahagia karena cinta
    Cinta akan menjadi sebuah kasih sayang...
    Jika orang yang dicintai membalas cinta yang diberikan
    Namun, cinta akan menjadi amarah….
    Jika orang yang dicintai malah mendustainya….
    Cinta takkan pernah mati
    Melainkan akan tetap tumbuh disetiap
    Pori-pori dan aliran darah umat manusia
    Hingga akhir waktu…

Makassar benar-benar indah di kala pagi hari. Udaranya sejuk, suasananya damai dan terasa menyenangkan. Tanpa ku sadari setahun sudah aku berada di kota impianku. Hmmm,,,, semakin di pandang semakin terasa damai.

Pagi yang cerah ini aku dihadapakan dengan alam yang hijau dan langit yang cerah untuk menyambut datangnya sinar mentari pagi. Sesekali di arah timur, terlihat kemuning emas yang membahana, suara kendaraan yang berlalu lalang dan suara si jago merah yang selalu membangunkan seluruh umat di pagi hari. Meskipun semuanya terasa bising dan tak enak didengar. Namun bagiku itu semua adalah keterpaduan suara musik yang indah. Hembusan angin pun seolah tak mau kalah untuk memberikan nadanya sendiri. Hati, jiwa, dan perasaanku pun ikut terbawa dengan semua itu. Maha besar Allah yang telah menciptakan semua keindahan ini. Subhanallah….

Di awal tahun 2012 ini, semua harus berubah. Tentunya menjadi lebih baik. Hah,,, cerita di tahun 2012 akan segera di mulai. Dan yang pastinya bersiaplah untuk semua yang akan datang padamu. Tetap semangattttt……!!!!!!!

Hari kedua di tahun baru ini, aku menemukan teman baru yang begitu baik. Dia selalu mengajakku chering di setiap waktunya. Dia adalah arvian. Arvian adalah teman satu kampus dan satu fakultas denganku. Selama ini aku tak menyadarinya, karena dulu aku tergolong orang yang kurang bergaul dan juga pendiam. Kalaupun ada temanku, dia hanyalah Narnia dan jesica. Arvian adalah mahasiswa yang pintar namun terkadang tak pernah beruntung. Ada satu hal yang mesti diubah olehnya, sikap malasnya yang selalu menggerogoti dirinya.

Terkadang dia sering datang terlambat disaat jam kuliah sudah dimulai. Bahkan ada yang lebih parah dari itu, banyak tugas yang dia lalaikan. Aku tahu semua ini, karena ternyata Arvian cukup terkenal di kampus dengan julukan si malas. Dia hanya butuh motivasi. Entahlah apa yang membuat dia seperti itu. Akupun tak tahu. Aku tak berani menanyakannya, karena aku takut menyakiti persaannya. Terlalu sulit bagiku mencari teman yang bisa di percaya, itulah yang menyebabkanku berusaha untuk menjaga persahabatan ini.

Hari-hari baru menggelut dalam hidupku, Arvian teman baikku selalu hadir di setiap lembar hari-hariku. Semakin lama, aku merasa dia semakin berubah. Berubah menjadi anak yang manis. Sekarang dia sudah mulai belajar membuang rasa malasnya dengan selalu tepat waktu mengikuti jadwal kuliah dan selalu mengerjakan tugas-tugas kampus. Hah,,, aku bahagia dengan perubahannya itu. Hal itu membuatku semakin yakin akan sebuah perubahan. Akhirnya hal yang baik terjadi juga padanya. Memang benar apa yang sering di katakan oleh Guru SMA ku dulu, “selalu ada jalan untuk menuju ke arah yang lebih baik.” Namun, tak jarang jalan yang kita tempuhi itu selalu mulus. Tetapi ada cara untuk memuluskannya yaitu jangan pernah melupakan Tuhan di setiap hal apapun yang kita lakukan. Dan keyakinan untuk berubah harus lebih besar dari pada sebuah keegoisan. Yakinlah!!!! Tuhan selalu ada di setiap hal apapun yang kita lakukan. Dan yang pastinya Dia selalu mengawasi kita.

Hari yang cerah untuk jiwaku yang cerah saat ini. Entahlah apa yang tengah terjadi denganku. Aku merasa semuanya terasa menyenangkan bila bersama dengan Arvian. Ya Tuhan… aku takut, persaan ini adalah cinta? Aku takut menghancurkan persahabatan yang baik ini hanya karena keegoisanku untuk memilikinya.

Setiap kali bertemu dengan Arvian, pasti hatiku terasa deg-degkan. Namun, aku berusaha menyembunyikannya dan berusaha agar dia tidak tahu apapun yang aku rasakan terhadapnya. Kami selalu bertemu di perpustakaan untuk belajar bersama. Semua itu membuatku bahagia. Lambat laun perasaan ini menggerogoti hatiku. Hah,,, aku pasti bisa menanganinya. Ya, bisa!

Hingga di suatu hari, Arvian memanggilku. Dia ingin mengatakan sesuatu ke padaku.

“Vi, boleh nda’ aku nanya sesuatu ama kamu?” tanya Arvian serius.

“ hm… tentu saja” Jawabku.

“Kelihatannya kamu tidak suka menjalin suatu hubungan pacaran?”. Hahahahaha……. Aku tertawa lucu!

“Ternyata cuman ini yang ingin kamu tanyakan padaku? kamu benar-benar membuatku ingin tertawa.” Aku tetawa ngakak. Namun, semuanya terhenti ketika Arvian menatapku dengan serius. Sumpah,,. Bola matanya itu benar-benar indah. Matanya mencerminkan suatu ketulusan yang membuatku langsung terpaku menatapnya.

“Aku serius Vi. Kita kan sahabatan, jadi kamu bisa donk jawab pertanyaanku?” wajah berharap.

“Hm,,,, gimana yach harus mengatakannya? aku juga bingung ngejelasinnya. Intinya aku harus menyelesaikan semua studiku dulu baru dech aku bisa pacaran.” nada meyakinkan.

“Cuman itu doank?” Tanya Arvian padaku. Sebenarnya sich ada masa laluku yang suram and sorry aku ga’ bisa certain ke kamu. Maaf yach! ini bukan pelit, tapi ini rahasia. Hehehe…..” Wajah meyakinkan dariku.

“Ok, aku bisa engerti kok”. Akupun merasa penasaran dan balik bertanya kepada dia.

“Bdw, kenapa kamu tanyakan hal itu padaku?” tanyaku penasaran.

“tidak , cuman pengen tahu aja” jawab Arvian. Selepas itu, aku dan Arvian pun melupakan semuanya. Dan kami pun berpisah karena aku mesti melanjutkan jam kuliahku.

Di kost,,,,

Sambi menggoreskan tinta di atas kertas putih diaryku. “Apa sebenarnya yang dipikirkan Arvian?” Tanya hatiku. Hah, aku berharap dia hanya sekedar ingin tahu, bukan karena dia memiliki perasaan yang sama sepertiku.

Entah apa yang terjadi, aku mendengar kabar Arvian dan jesica kini sudah jadian. Ya Allah,,, mengapa hal seperti ini terulang lagi padaku? Ketika aku mulai mencintai seseorang, ternyata dia mencintai orang lain. Sulit bagiku melihat mereka berdua selalu bersama. Aku sebagai sahabat, hanya bisa ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh kedua sahabatku. Namun, sebagai seorang wanita jauh didasar hatiku yang terdalam ada luka yang sulit untuk diobati.

Arvian kini jarang bersamaku. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama jesica. Kalaupun disaat aku membutuhkannya, dia selalu membuat banyak alasan untuk tidak bisa bertemu denganku. Hah,,, aku benar-benar kehilangan dia.

“Maafkan atas semua kebodohan, keegoisan, dan semua kesalahan yang ku perbuat. Aku hanya ingin kamu bicara padaku lagi. Jangan mendiami diriku seperti ini. Ini semua membuatku tersiksa”.

Lambat laun setelah semua yang kulalui, kini aku menikmati kesendirian ini dengan menata kehidupanku yang baru. Tak ada yang harus aku sesali. Aku hanya butuh sebuah keyakinan untuk bisa bangkit menjadi diriku Vianda Amryta renaldy kayak dulu lagi. Menjadi pribadi yang tegar tanpa harus menangisi kenyataan yang menimpaku. Dunia ini begitu luas, sehingga aku tak harus merasa sempit untuk hidup di dunia ini. Tak ada yang bisa membuatku jatuh lagi.

Hingga suatu hari, Arvian datang padaku. Dia ingin memulai semuanya seperti sebelum-sebelumya. Dan aku menerima dia lagi sebagai sahabatku. Rasa yang dulu pernah ada kini telah terkikis habis oleh sang waktu. Kalaupun masih tersisa itu mungkin 0,01%. Dan rasa 99,99% yang tersisa hanyalah persaan sebagai sahabat.

Ketika Arvian meminta maaf karena telah menelantarkan persahabatan kami selama ini. Dan berharap kami bisa menjadi sahabat kayak dulu lagi, aku menerimanya dengan tangan terbuka. Ada satu hal yang selalu tertanam di pikiranku. Menurutku, semakin banyak sahabat, semakin banyak rezeki yang bakalan datang. Hehehe….

Aku tak mungkin tidak menerima Arvian menjadi sahabataku lagi. Karena Aku hidup di dunia ini bukan hanya sendiri dan terlebih lagi aku tak ingin rasa benci mengalahkan kekuatan cinta persahabat kami selama ini. Selain itu aku tak ingin menyakiti dia dengan tidak menerimanya sebagai sahabataku lagi. Aku hidup di dunia ini bukan untuk menyakiti orang lain. Tapi, Aku hidup di dunia ini untuk menabur kebahagiaan di setiap lembar-lembar kehidupanku bersama orang-orang yang mencintaiku, dan orang yang aku cintai.

Semuanya akan berjalan dengan baik. Itulah kata yang selalu ku tanamkan di dalam hatiku agar bisa melegakan apapun yang aku lakukan. Tetap optimis dan membuat keyakinan bahwa semuanya akan berakhir dengan bahagia. Bahagia bukan berarti harus membuatnya selalu menjadi sempurna. Tapi bagaiman kita bisa membuat orang lain tersenyum tanpa harus membuat sesuatu terlihat istimewa.

Hm…. Awan hitam menutupi cerahnya langit sore di makassar. Mungkin sebentar lagi bakalan turun hujan. Di beranda kost, aku duduk sendiri sambil memegang buku diaryku. Akupun terdiam dan memikirkan semua yang telah terjadi. Sambil mengingat kembali semua kenangan-kenangan pahit maupun manis bersama semua sahabat-sahabatku. Setelah itu aku pun teringat Arvian, sahabatku. Sambil mengingat kenangan bersamanya, aku meggoreskan tinta hitam diatas kertas putih diaryku.

“Aku mencintainya bukan karena keegoisanku, tapi aku mencintainya karena dia adalah milik Yang Maha Kuasa. Aku tak harus menuntutnya untuk mengikuti semua apapun yang aku mau. Yang aku inginkan hanyalah kebersamaan di setiap langkah. Bila ternyata dia mempunyai rasa yang sama seperti yang aku miliki, aku yakin Allah akan memudahkan jalannya untuk bisa menemukan rasa itu. Tetaplah bahagia bersama jesica, walau itu membuatku sakit. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Mungkin ini adalah jalan terbaik untukku, dia dan jesica. Aku tak ingin menyakiti hati jesica dengan cara merampas semua perhatiannya. Bila aku tak mendapatkan hatinya sebagai pacar. Aku berharap, aku mendapatkan hatinya sebagai sahabat.”

    Genggaman Cinta-Mu
    Cinta adalah anugrah dari yang maha kuasa
    Semua orang memilkinya
    Dan berhak mendapatkannya
    Cinta bukanlah suatu musuh yang harus di benci
    Tapi dia adalah sahabat yang akan selalu menemani….
    Menemani di kala suka maupun duka

    Terimakasih Ya Tuhan….
    Karena telah memberikan cinta-Mu padaku
    Melalui sosok orang-orang yang menyayangiku
    Aku berharap, Engkau takkan pernah meninggalkanku
    Dan takkan pernah melepaskan genggaman cinta-Mu untukku…..
    Hidup memang susah untuk di tebak. Semuanya berjalan seakan sebuah cerita. 


Cerita hidup yang harus kita jalani dan lalaui satu persatu. Aku berfikir, bila aku sudah melangkah kedepan, maka aku akan terus melangkah walau tekadang harus membuatku terjatuh. Namun, aku takkan pernah berhenti untuk terus melangkah. Aku akan menganggap di cerita hidup ini akulah yang jadi tokoh utamanya. Dan aku tak ingin digantikan menjadi peran pembantu di cerita hidupku sendiri. Tetap tersenyum dengan semua cobaan yang kuhadapi. Akan ku katakan pada setiap masalah yang kuhadapi, kalau aku tidak sendiri dan aku masih punya Tuhan yang selalu menyayangiku. Aku tahu disetiap serat lembar kehidupanku selalu ada cinta yang terselip untukku. Cinta itu datang dari Tuhanku, kedua orang tuaku, keluargaku, sahabat-sahabatku, dan orang-orang yang menyayangiku. Semangat!!!! ^_^

THE END

“ Tak ada cinta yang lebih indah selain cinta yang diberikan Tuhan kepada kita. Jagalah cinta yang ada pada dirimu saat ini! Jangan nodai cintamu hanya karena sebuah keegoisan. Jika kamu salah memberi cinta, maka cinta itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri.”
Terimakasih Cinta…. ^_@